PUISI 3

Masa Lalu (to parelthón)

Langkah kaki berjalan berhamburan di persimpangan
Tidak pernah Ku sangka waktu mencari kembali
Melongo, memastikan kembali apa yang Ku lihat

Sosok seorang yang di seberang tidak meragukan-Ku
Sama seperti bayangan yang selalu membuntuti
Atau Aku yang tidak dapat menghapuskan bayang itu?
Tolong sadarkan-Ku, ini bukan Mimpi

Hujan menari di hari Jumat, menghidupkan masa lalu
Tetesan demi tetesan seakan menyayatkan hati siapapun
Bahkan tempat yang Ku diami ini merengek tak sanggup
Masa lalu itu menggenggam siapa yang tak ku kenal
Masa lalu itu bermanis wajah dengan tawa yang tak asing
Tak sanggup menumpahkan kerinduan, Hujan pun memisahkan

Teringat akan sejarah mengenai kisah lama
Tidak ada lagi yang perlu disesali, hati-Ku mencoba menenangkan
Menangis dan menyesali, batin-Ku merajuk memintanya lagi kembali
Tubuh-Ku tak sanggup lagi berjauhan, dulu hanya berjarak satu centi darinya
Ingatan-Ku tak sanggup menguburnya

Berkeping-keping tidak karuan, hanya hancur yang terjadi didalam hati-Ku
Sudah tidak bisa lagi menggenggam apa yang bukan jadi milik-Ku

Semakin deras, bukan hanya hujan yang mengiringi jumat ini
Rasa Rindu-Ku semakin deras ketika masa lalu mengetuk masa-masa ini
Tidak kah Masa lalu itu ingin menyapa-Ku kembali?
Tidak kah Masa lalu itu mencoba mencari-Ku?
Apa yang sudah ia lakukan tanpa-Ku selama ini?
Apa yang tlah terjadi setelah Masa lalu itu melanjutkan Masa depannya?
Sudah berapa banyak moment yang Ku lewatkan, yang tlah diganti oleh Nya?
Sudah kah Masa lalu melepaskan-Ku dan mengunci pintu-Nya?

Masa lalu, aku ingin kau kembali, tapi bukan jadi masa lalu
Masa lalu, aku ingin kau kembali, tapi bukan jadi masa kini
Masa lalu, yang Ku ingini hanyalah Masa depan-Mu!


By Corani (Cory Sarah Yohani SIbarani)

Komentar

Postingan Populer