PUISI 2
Daun yang Tertinggal
Mendayu suara-suara dari lorong seberang
Seakan tidak henti meneriakan nama-Mu
Kabut menutupi satu warna, Ku sambut segala haru
Dari kabar Malam menanti fajar, tapi ..
Tidak ada lagi kabar manis ku dengar di telinga-Ku
Kecaman pemuda-pemudi, mengekang sang tetua
Tidak dapat ditafsirkan hari esok sang Mulia
Mati meninggalkan Biru. Hidup bersama Layu.
Tak Ku sangka kini waktu yang datang menjemput sang Mulia
Tidak ada lagi yang perlu Ku kejar
Bahkan hari-hari seakan sirna lari dari-Ku
Menengok kebelakang, baru kusadari segalanya
Haaa ... Mengapa harus aku yang ditinggal
Mengapa ... Mengapa ...
Waktu yang pernah tercatat di memoir indah takkan
tergantikan oleh masa menanti masa
Jubah memang indah untuk Kau, tapi bagaimana
jika ditubuh kaku, pucat tak bersuara.
Bagaimana jika segalanya ikut mati masuk ke dalam
bumi yang tidak memberi waktu sekali ini
Apakah hanya Cinta yang bisa bebas menyiksa?
Apakah hanya Kasih yang cukup Mengampuni?
Apakah Ketulusan yang sanggup Menolak?
Lalu bagimana dengan sang Mulia yang tetua diantara-Ku.
Ibu menangisi balok kayu yang diukir untuk kepergian-Mu
Dia tak sanggup melihat apa yang tidak ingin dia lihat
Ibu menyiapkan persembahan terakhirnya untuk-Mu
Kain di pundak kanan-nya basah dengan airmata
Dia baru menyadari waktu sudah menjemputnya, dan berfikir
"Kenapa bukann Aku Tuhan!"
Suatu waktu siapa yang menyadari kebaikan sang tetua
akan marah dengan dia perbuat dan ikut mendoakan
Terima kasih, kata Ibu tidak habis-habisnya merengkuh jemari-Mu
Sekarang dalam hatinya hanya Ikhlas dan menanti waktu lagi
Bersama-Nya
by Corani (Cory sarah yohani sibarani)


Komentar
Posting Komentar