STOP MENYONTEK

Contek-menyontek
Oleh Corani

Minggu ini jadi minggu ujian tengah semester di perkuliahan dan ujian nasional di beberapa tingkat sekolah. Ngomongin tentang ujian, pasti ada aja yang membahas seriusnya anak yang rajin belajar, anak yang tampang dan gesturenya santai, atau yang menarik anak (saya menyembutnya geng) dengan bakat contek-menyontek. Contek-menyontek bakat atau keahlian sih? Hmm .. yang saya tahu, bakat itu dari sang Pencipta, jadi gak mungkin pencipta kita memberi bakat yang buruk, setuju? Penulis sendiri (dengan jujur dan malu) juga pernah melakukan perbuatan contek-menyontek ini, most of all, saya gak ahli dan jauh dari kata ‘berani’ atau ‘nekat’. Saya pernah ingin sekali mencontek di masa SMA, pas UAS kelas 1 pelajaran Matematika, mau banget, maunya mau banget! Karna Matematika merupakan pelajaran yang bukan saja menakutkan buat saya, tapi bisa saja-kapan saja dia membunuh saya. Hehehe, tapi semua gagal, kemampuan leher, mata, badan, dan tangan saya kurang lihai untuk urusan ini, saya kadang sebel dengan ketidakmampuan yang ‘kadang’ dibutuhin. Akhirnya, kebiasaan itu gak jadi akar, saya biasa ‘ngarang’ saja kalau sudah mentok atau gak bisa sama sekali. Atau kalau bahas Matematika, saya pasti ‘cap cip cup’ aja, dan tahu pasti hasilnya 3,5 deh besok. Oh ya, back to the topic, apa sih yang buat pelajar lihat menyontek, faktor, dampak, atau keuntungannya, berikut pembahasannya (menurut penulis-gak setuju comment yah J)  Check it out >>>


Faktor Menyontek :
1.                   Kurang Percaya Diri
Kelemahan muda-mudi sekarang ialah kurang percaya diri, mereka seakan percaya bahwa jawaban di samping atau depan atau belakang atau yang dimaksud teman jauh lebih meyakinkan, at least lebih meyakinkan. Padahal tidak selalu, semua itu punya porsinya sendiri dalam menjawab soal, masalah benar apa salah itu tergantung ‘rajin’ dan ‘beruntung’nya kita doang kok, apalagi kalau Essay, bobot dari pernyataan kitalah yang mendasari pemberian nilai, jawabannya gak pernah pasti.
2.                   Kurang Belajar atau Bekerja Keras
Pelajar sering kali meremehkan belajar. Yup, saya sendiri demikian, tapi jika disadari, belajar merupakan investasi kita dalam menjawab soal. Apalagi soal yang tidak begitu kita kuasai atau kita sukai seperti hafalan, perhitungan, kadang kala, dengan rajin belajar, melatih otak kita mengingat dan tentunya memahami. Hal ini termasuk kerja keras untuk mencapai apa yang akan dihadapi, jadi jangan remehkan ‘belajar’
3.                   Tidak memenuhi catatan materi lengkap
Jika dari sekolah/kuliah saja sudah foto catetan temen, atau copy catetan temen, atau malah sama sekali gak nyatet, mau bertumpuh pada apa kalau bukan nyontek? Hal inilah yang perlu di ingat, ketika kita di lingkungan sekolah/kuliah, usahakan mencatat apa yang guru/dosen paparkan, dengan bahasa dan pemahaman kita sendiri, usahakan jangan menulis semua materi yang padat tanpa di ringkas semampu kita. Ketika catatan sudah acak-acakan dan gak lengkap, kemalasan membaca dan memperbaiki biasanya menyelimuti, dan ujungnya saat ujian kita bertumpuh pada menyontek teman, handphone dan sebagainya.
4.                   Kurang Berdoa
Sekilas hal ini simple dan remeh sih, banyak orang berkata “Berdoa tapi gak berusahan sama saja” saya setuju dan itu benar. Tapi diatas itu semua, jika usaha kita terutama yaitu ‘menghindari nyontek’ dan sudah belajar, step yang perlu dilanjutkan hanyalah berdoa. Biarkan saja, orang lain menyontek, kalau usaha kita menghindari nyontek, ditutup dengan doa, percaya deh, perasaan kita jauh lebih lega. Kalaupun hasilnya lebih buruk dari si ‘penyontek’ sekali lagi percaya, naluri kita menertawai ‘mereka’ bahwa mereka membohongi diri sendiri dengan bangga akan nilai hasil menyontek. Jadi jangan lupakan hal ini.
5.                   Kurang manage Waktu
Dalam hal ini, pasti kita bertanya, apa sih relasinya dengan manage waktu dan menyontek. Kalau kita tidak bisa mengatur waktu bermain dengan belajar, tentu kita akan kurang menyerap materi yang ada. Di satu sisi kita terlalu fokus dengan Games, Refresh Medsos, dan Narsis di platform Internet apapun. Tentunya waktu kita akan habis dengan beberapa hal di atas, sehingga manage waktu belajar tidak sinkron. Walhasil, pas ujian kita keteteran dan ambil jalur cepat menyontek.
6.                   Kurangnya dukungan orang Terkasih
Terkadang, dukungan terbesar bisa datang dari orang terkasih, menghindari nyontek pun kemungkinan besar bisa terhindari. Tapi kalau orang terkasih saja sudah acuh dan cuek dengan proses belajar dari seseorang, pasti seorang itu akan merasa kurang dan nekat. Bekal percaya diri juga berasal dari orang-orang terkasih. Contohnya anak SMA yang mengikuti Ujian Nasional (UN), jika ayah/ibunya kurang memperhatikann fase ini, si anak secara mental mengalami penurunan kepercayaan diri dan bisa saja dicurahkan dengan bermalas belajar, kurang fokus dan menyimpang dengan menyontek. Hal inilah yang perlu diperhatikan bagi Orang tua, para sahabat, atau para kekasih, hal ini cukup di beri sedikit dukungan untuk membuat ‘geng menyontek’ berkurang.
7.                   Tidak didukung pihak Intern
Dalam banyak kasus menyontek, bukan saja salah pelajarnya, hal ini bisa didukung dari pihak intern seperti pengawas yang tidak mengabaikan tata tertib, dan tidak menjunjung nilai kejujuran. Hal ini sering terjadi saat UN, para pelajar melaporkan beberapa pengawas memberika klue jawaban pada mereka secara langsung. Jika dalam perkuliahan, hal ini terjadi karena pengawas kurang peduli atau takut dengan pelajar yang bisa saja arogan jika ketahuan menyontek. Mereka sibuk bermain hape, tidak membuat peraturan tegas, atau bahkan mengawasi dengan tidur. Hal ini menjadi faktor, mengapa menyontek diminati para pelajar.


Ciri – ciri Penyontek :
1.                   Memaksa
Saat saya ujian beberapa hari ini, saya melihat ‘geng’ atau individu penyontek cenderung memaksa kepada target contekannya untuk memenuhi keinginannya. Hal ini bisa saja berdampak pada target yang tidak mau dicontek misalnya masa SMA/SMP yaitu dimusuhi dan diejek. Kalau di Perkuliahan mungkin dibicarakan dibelakang dengan hal serupa yaitu ‘anaknya pelit tahu, minta di tempeleng, sombong banget sih mentang-mentang pinter’ padahal bagi saya sendiri, semua orang pinter, hanya beberapa yang kadar usahanya besar dan kecil.
2.                   Tidak bisa tenang
Ketika beberapa orang saat ujian bisa tenang dan asik mengisi soal, para penyontek akan terlihat uncomfortable, dan bingung. Apalagi jika target yang ingin ia contekin jauh dari jangkauan, atau sudah lebih dulu selesai, atau bahkan ternyata galak dan tidak semanis yang ia harapkan. Pasti mereka menganggap ‘tamat riwayat’ dan ujungnya hanya bisa celingak-celinguk, menggaruk-garuk kepala, dan berkeringat.
3.                   Sering izin ke toilet
Mungkin kalau di masa SD/SMP/SMA saat ujian guru lebih protek dengan siswa-siswi yang keluar-masuk izin ke toilet. Tapi ini beda, saat saya ujian tempo hari, di perkuliahan para mahasiswa sering sekali izin ke toilet, salah satu buktinya, waktu itu saya semester 3, saya sudah selesai ujian, dan pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba datang 2 orang perempuan mengeluarkan gawainya sambil berkata-kata kecil (seperti mengingat suatu kalimat) lalu memasukan kembali ke saku celananya dan masuk ke dalam kelas. Sejak saat itu saya menyadari ciri ‘geng’ penyontek ini.
4.                   Duduk maunya di belakang
Di masa sekolah saat ujian, orang bisa saja berpindah bangku, saat ujian di perkuliahan pun demikian, mereka berharap dengan duduk di belakang, aksi menyontek dari catatan yang mereka buat, atau dari handphone pun dapat memuluskan usaha mereka. Hal ini sering sekali saya dapati sejak duduk di SMP hingga perkuliahan, beberapa orang sangat bahagia jika ujian bisa merebut bangku belakang.
5.                   Mencari bangku dekat dengan salah satu pelajar pintar
Ada beberapa orang yang tidak beruntung jika tidak dapat bangku di belakang. Hal ini bisa saja keuntungan bagi penyontek dengan mencari target dekat seorang yang ia anggap lebih pintar darinya, agar usaha mengerjakan soal lebih nyaman dan efektif, hal ini tergantung dari target yang mau diconteki. Tidak mendukung aksi dia dengan ‘berani menolak’ atau dengan memberikannya agar terhindar dari ‘cibiran’ semua dari diri sendiri.
6.                   Masuk/datang  lebih awal
Para ‘geng penyontek’ akan mempersiapkan diri lebih cepat saat ujian, agar materi yang belum mereka dapati bisa mereka persiapkan untuk dapat dicatat, dipersiapkan sebaik mungkin. Ada pula dari beberapa orang ini datang di akhir, karena persiapan mereka sudah diperhitungkan dirumah dengan catatan kecil untuk dapat disimpan di saku mereka.


Tips untuk TIDAK Menyontek :
1.                   Buat catatan materi semenarik mungkin
Saya pribadi, tiap kali mengisi catatan perkuliahan atau sejak sekolah selalu menarik, agar saat dibaca tidak membawa kebosanan. Hal ini dengan cara salah satunya, memberi berbagai tinta warna-warni, kertas file atau buku catatan di beli dengan warna ceria atau gambar menarik. Sehingga, saat dibaca tidak mendatangkan kebosanan, at least mata kita diisi oleh beberapa warna.
2.                   Biasakan selesaikan catatan materi di kelas
Jika menemukan pengajar (guru/dosen) dengan segudang materi, dan gaya mengajar yang kilat, biasakan menulis secara garis besar sekaligus memotretnya lalu menyelesaikannya di kelas itu juga hingga tuntas, agar saat materi lain didapat, tidak membebani materi yang berat tersebut. Kalau gak ada HP? Beranikan diri meminta materi tersebut pada pengajar untuk di simpan di Flashdisk kita tau membagikannya lewat email kalian.
3.                   Ajak teman belajar bersama (ajak lebih dari 2 orang)
Bergaul, membuat proses sosial-emosi kita seimbang, daya belajar pun menjadi lebih baik, akselarisasi kecerdasan pun ikut terpacu jika kita memiliki teman. Saat menemukan teman, ajak mereka melakukan hal positif ini yaitu belajar bersama dengan santai dan sungguh-sungguh. Menurut penulis “Teman yang baik itu bukan saja memperpanjang hidup kita dengan Tawa. Tapi membantu kita mengisi hidup dengan Wawasan. – Corani” sehingga, cari dan pastikanlah teman yang bisa membantu kalian menemukan kedua hal diatas.
4.                   Tetapkan tempat comfort belajar-Mu
Belajar bukan hanya menemukan tempat yang tenang, tapi yang nyaman, kalau di tempat cukup padat bisa membawa mood belajar mu yang baik kenapa tidak di ikutkan? Maka itu, carilah tempat nyaman kalian untuk bisa mengembangkan kemampuan belajar kalian.
5.                   Lakukan aktivitas lain
Kata siapa, jika mau ujian belajar terus, gak ada hentinya. Hal ini jangan sampai membuat kalian depresi atau isi dari pelajar kalian buyar dan tidak ada yang tertempel sama sekali. Lakukanlah aktivitas lain seperti mengisi hobi kalian, bermain dengan sahabat, berekreasi dengan keluarga, bercerita santai dengan kekasih, tentu membuat kalian jadi relax dan tidak membawa ketegangan yang akan berdampak buruk jika terus-menerus dipaksakan belajar.
6.                   Mengkonsumsi dan melakukan aktifitas yang menyehatkan

Dua hal diatas sangat diperlukan banyak orang, ketidakmampuan materi dalam mengkonsumsi makanan sehat tidak menjadi soal, hidup sehat dengan berolahraga dan berfikir positif menjadi kunci utama. Hal lainnya ialah, hidup dengan bersyukur dan murah tersenyum ikut membantu mendongkrak kemampuan kita menolak ‘menyontek’. Ketika kita menghindari makanan yang buruk di luar sana, dan menimbun jajanan yang kurang sehat membuat kita ikut terpuruk, jadi hindarilah.


Dampak Menyontek :
1.                   Menghasilkan kepribadian tidak Kreatif
Banyak orang berkata “Lo mah kreatif, makanya kalau ujian lancar ya, maksudnya nyonteknya kreatif” hal ini bersinggungan dengan kemampuan seorang. Justru dengan menyontek, sering kali orang tidak kreatif dan justru pasif, karena bagi mereka, kekreatifan dimiliki orang-orang, padahal semua itu diasah dan dilatih agar daya kreatifitas kita bertumbuh dan berkembang.
2.                   Mengurangi Kepercayaan diri Seseorang
Karena ketidak-percayaan diri lah orang kerap kali menyontek, hal ini bisa saja menjadi kebiasaan yang sukar di lepas dan dihindari karena di asah sejak dini, maka itu sejak muda, dan bagi para orang tua dan tenaga pendidik utamakanlah sejak awal mendidik seorang dengan percaya diri bukan ‘percaya diri menyontek’ tapi percaya diri dengan kemampuan sendiri.
3.                   Mencetak Pelajar Malas
Menyontek membuat banyaknya pelajar malas, dan mengandalkan orang lain, atau benda lain, atau hal lain untuk menunjang kelancaran dalam ujian atau pendidikan mereka, sehingga munculah potensi yang seharusnya kompeten tetapi hilang karena bahaya menyontek ini.
4.                   Membentuk Pelajar berdaya saing rendah
Orang yang menyontek memperlihatkan daya saing mereka yang rendah, karena tidak mengajak diri mereka untuk mengasah kemampuan, malah mengandalkan dan berpasrah tanpa juntrungannya. Hal ini membuat banyak pelajar, sudah malas, kurang percaya diri, dan ogah dalam bersaing. Walhasil, sedikit dari mereka yang bercita-cita tinggi.
5.                   Menimbulkan kepribadian ikut-ikutan (tidak inovatif)
Perhatikanlah, kota atau negara yang maju melahirkan SDA yang Inovatif dan jauh dari Menyontek (Atau konsepnya Plagiarisme). Pelajar yangg sejak dini hingga dewasa rajin menyontek, akan menjadikan diri mereka salah satu generasi yang ikut-ikutan dan kurang berinovatif, sehingga kini negara berkembang masih berjuang untuk membentuk generasi ‘Non-Menyontek’
6.                   Mudah goyah pada nilai-nilai dasar dalam bermasyarakat
Orang yang menyontek baik dalam ilmu pengetahuan, atau budaya pop, dan sebagainya akan tergerus oleh fenomena yang senantiasa bermunculan dan mengeluarkan budaya baru atau fenomena baru. Sehingga mereka yang menyontek akan mudah goyah pada nilai dasar yang ada dalam budaya negeri mereka, sehingga originalitas atau kekentalan nilai positif dalam masyarakat bisa saja pudar dan membentuk budaya yang tidak semestinya karena hal ‘Menyontek’ ini.
7.                   Merusak kemampuan yang ada dalam diri sendiri
Bakat yang Pencipta berikat untuk kita ialah beragam dan bernilai adanya. Hal itu merupakan anugerah yang harus kita jaga dan kita pergunakan sebenar mungkin, dan sekiranya seberguna mungkin. Jika budaya menyontek tidak diperangi, maka para ‘geng’ ini akan melupakan kemampuan yang mereka miliki, sehingga merusak bakat yang sudah Pencipta berikan, dan itu semua menjadi sia-sia.
8.                   Tidak memiliki wawasan yang cukup luas
Orang yang menyontek tentu saja kurang membaca. Orang yang menyontek tentu saja kurang memperhatikan materi yang diberikan. Orang yang menyontek bisa saja hanya menikmati pergaulan yang t idak luas dan variatif. Jika dari kita mengurangi tensi menyontek sejak dini, dan rajin membaca (bukan saja buku pelajaran) tentu kita memiliki bahan wawasan yang luas yang bisa kita bagikan pada orang-orang disekitar tanpa perlu menggurui.

Keuntungan Menyontek :
1.                   Tentu tidak ada (dalam konteks yang semestinya) J

Keuntungan TIDAK Menyontek :

1.                   Mampu menyelesaikan persoalan sendiri
Jika kita melatih diri kita, pasti otak kita berjalan dengan mencari jalan keluar, tentunya dengan jalan keluar positif. Contohnya, jika kita memiliki masalah dalam hitung-hitungan kita akan mencoba mencari teman atau bertanya pada pengajar kita untuk membantu kita dalam kesulitan yang kita hadapi disela-sela kegiatan pendidikan.
2.                   Memiliki daya serap yang baik dalam menyerap pelajaran
Keuntungan ini nyata, kemampuan dalam belajar membantu kita mampu menyerap isi materi yang diberikan guru/dosen dalam suasana belajar. Suasana yang seperti apapun, akan membantu kita fokus dalam menyerap dan memahami pelajaran tersebut.
3.                   Mampu bersosialisasi dan mengeluarkan emosi dengan baik
Ketika sudah merelate percaya diri, berdoa, bertekun, dan hidup sehat, tentunya jiwa sosial dan emosi kita dilatih menjadi lebih baik dan lebih positif, sehingga hal ini menjadi tambahan yang baik untuk bekal kita dalam dunia kerja dan bermasyarakat.
4.                   Optimal dalam tiap kegiatan yang dimiliki
Sebanyak apapun aktifitas, orang yang tidak ikut menyontek akan mencari kegiatan positif dan atau mendalami hobinya, sehingga ia tahu mengoptimalkan kesemua hal tersebut tanpa timpang sebelah.
5.                   Percaya Diri
Hal ini yang menjadi utama, menyontek membentuk kepribadian ‘confidence’ yang membuat nyaman baik diri sendiri dan untuk orang lain, tentu dampaknya begitu positif dan berguna.
6.                   Memiliki keinginan berkompetensi secara positif
Rata-rata para pelajar atau muda-mudi akan menjadi kompetitif jika tidak membiasakan diri menyontek. Hal ini saya perhatikan dalam dunia pendidikan di Indonesia, beberapa pelajar akan terlihat berkompetisi secara positif jika mereka selalu mengasah otak dan keahlian mereka tanpa perlu menyontek dan akan berbanding jauh dengan ‘geng menyontek’ karena mereka tidak suka bersaing hal apapun.
7.                   Aktif
Pelajar yang positif dan menghindari hidup menyontek akan menekuni hobi dan mengisi waktu dengan segudang aktifitas yang positif.


Jadi readers, semoga kalian tetap bersemangat dalam mengemban pendidikan dan terus berjuang dengan mimpi kalian. Jauhi kebiasaan ‘MENYONTEK’ ini, karena bagaimanapun, melatih ‘PERCAYA DIRI’ jauh lebih sulit. Dan salah satu pesan lainnya dari menghindari Menyontek ialah, hindari Narkoba dan Seks Bebas. Nikmati hidup-Mu dengan hal positif dan kebahagiaan. Have a Great Day! 🙌👐🙏💖😃

Komentar

Postingan Populer