Wawancara Jurnalistik
Apa itu Wawancara Jurnalistik?
Jurnalistik : kata dasarnya adalah "Jurnal" (bahasa Inggris Journal) artinya laporan atau catatan.
"Jour" yang dalam bahasa Perancis artinya "Hari" atau "Catatan harian" (yang dimaksudkan seperti Diary)
Dalam bahasa Belanda "Journalistiek" artinya Penyiaran catatan harian.
Jadi dapat dikatakan, Jurnalistik ialah kemampuan dalam menuliskan suatu catatan atau informasi dalam bentuk apapun, dimanapun, kapanpun dengan mengikuti setiap cara dasar dan dan aturan yang sudah ditetapkan.
Wawancara : (bahasa Inggris: Interview) merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi yang tepat dari narasumber yang terpercaya. Wawancara dilakukan dengan cara penyampaian sejumlah pertanyaan dari pewawancara kepada narasumber.
Ankur Garg, seorang psikolog menyatakan bahwa wawancara dapat menjadi alat bantu saat dilakukan oleh pihak yang mempekerjakan seorang calon/ kandidat untuk suatu posisi, jurnalis, atau orang biasa yang sedang mencari tahu tentang kepribadian seseorang ataupun mencari informasi. Sedangkan;
Wawancara Jurnalistik : Wawancara yang dilakukan wartawan terhadap narasumber untuk memperoleh informasi berupa Fakta dan Data untuk selanjutnya ditulis dalam bentuk Produk Jurnalistik (berita, tulisan khas, laporan mendalam dan sebagainya).
A. Fungsi Wawancara Jurnalistik
- Untuk memperoleh Fakta atau Opini (pendapat)
- Mengkonfirmasi sesuatu berupa masalah, peristiwa, kejadian
- Memperoleh keberimbangan berita (check and recheck)
- Memperoleh kelengkapan berita sehingga Informasi dalam berita menjadi lengkap
B. Kriteria Narasumber
>> Reliabilitas yang dapat merujuk pada
- apakah narasumber dapat dipercaya
- apakah informasinya bisa dipercaya
- apakah narasumber ini ialah orang yang benar-benar mengetahui permasalahan
- bagaimana latarbelakang kepentingannya sehingga ia bersedia di wawancara
- apakah narasumber ini secara bertanggungjawab atas informasi
- apakah ada narasumber lain yang lebih punya otoritas tanggungjawab
- apakah narasumber ini punya keahlian/kepakaran pada bidangnya
- apakah pendidikan dan pengetahuannya bisa mencukupi
- apakah narasumber itu mudah diwawancarai (dari segi waktu dan tempat)
- apakah narasumber itu tidak sulit diwawancarai (mudah di hubungi)
![]() |
| Wawancara Langsung dan Ekslusif melalui RCTI oleh Putra Nababan dengan Narasumber Presiden America ke-44 Barack Obama |
C. Jenis Wawancara
1. Wawancara Langsung (Wartawan mewawancarai narasumbernya langsung dengan melakukan temu janji untuk dapat diwawancarai)
2. Wawancara doorstop (Wartawan mewawancarai langsung narasumber sesudah sebuah acara berlangsung)
3. Wawancara Jumpa pers (Wawancara saat narasumber memberikan keterangan secara langsung (ekspres) Wawancara ini sering sekali dilakukan oleh Public Figure, Pejabat yang menyapaikan pesan atau informasi secara khusus dan cepat diakses karna dengan berbagai Pers)
4. Wawancara Ekslusif (Wartawan mewawancara narasumber secara Ekslusif atau tidak ada wartawan media massa lain yang hadir)
5. Wawancara sambil lalu (Wartawan tiba-tiba secara tidak sengaja bertemu narasumber (secara acak) misalnya Artis atau Pejabat di Tempat wisata, gedung perbelanjaan dan sebagainya)
6. Wawancara on the Spot (Wartawan mewawancarai narasumber pada saat kejadian/peristiwa berlangsung seperti kebakaran, penggusuran atau tabrakan)
7. Wawancara Investigasi (Wartawan melakukan wawancara secara tertutup/tersembunyi tanpa menyebutkan identitasnya, yang dimana ini lebih dari pada wawancara Ekslusif)
8. Wawancara via Media Social (Wartawan mewawancarai Narasumber melalui sarana media sosial seperti Whatsapp, Blackberry messenger, Pesan singkat, Pesan Facebook, dan sebagainya)
9. Wawancara Tertulis (Wartawan memberikan pertanyaan dengan mengirimkan daftar pertanyaan secara tertulis dan narasumber menjawabnya secara tertulis pula)
10. Wawancara by Phone (Wartawan mewawanca narasumber dengan menggunakan telepon atau handphone)
D. Jenis Keterbukaan Wawancara
- On the record : Narasumber mengetahui dirinya sedang di wawancara dan bersedia hasil wawancaranya dipublikasikan
- Off the record : Narasumber tidak mau hasil wawancara disebarkan ke public dalam bentuk berita atau produk jurnalistik lainnya
- Background : Narasumber menjelaskan latar belakang masalah atau kejadian tapi tidak mau namanya dikutip oleh wartawan
E. Tiga tahap Pelaksanaan Wawancara
- Persiapan (menentukan topik, menyiapkan pertanyaan, menentukan narasumber dan lain-lain)
- Pelaksanaan (datang tepat waktu, perhatikan penampilan, awali dengan menanyakan biodata narasumber dan sebagainya)
- Pasca-wawancara (Menyusun rangkuman hasil wawancara, mencatat pokok pembicaraan dan lain-lain)
F. Sikap yang Harus dimiliki Pewawancara
Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:
>> Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari responden, baik yang menyenangkan atau tidak.
>> Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si responden.
>> Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua responden dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua responden bagaimanapun keberadaannya.
>> Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar terarah.
Hope You can Find another Knowledge in My Blog




Komentar
Posting Komentar