PUISI 6

Berkarang

Bulan lalu, hari-hari menjauh
Bintang lalu menangis diantara perayaan
Sinar Mentari memalu diantara langit menghitam
Seakan tahu hari sudah berat oleh beban

Para pemakan menyembunyikan tangan
Mematung seperti bersalah, terlihat berdosa
Pengemis mengeluarkan tangan
Menantang seakan bertanya yang Kau beri

Darah bagaikan minuman keras yang Ilegal
Darah bagaikan makanan kadaluwarsa bertimbun
Darah bagaikan air keruh yang ditutupi lumut
Kekurangan udara meminta tolong tak sanggup
Menggelembungkan suara-suara samar dari dalam

Lihat lagi, tidak ada yang bisa berbuat apa-apa
Lihat lagi paksanya agar terlihat peduli
Lihat lagi sekali lagi, berkali-kali
Tapi tidak lagi kau hiraukan, kau yang memaksa untuk tidak berbuat apa-apa

Ada cahaya dari dalam mata sang anak kecil
Biadap!! Teriak Paru Baya dari bilik gorden Hijau
Setan! Arwah gentayangan!! Teriak dalam bilik bercelah tikus
Beraninya dirimu! Menggunakan kekuasaan yang tak diperlukan

Sorot mata dalam mematuhi setiap sabda
Sorot mata keliru memandangi apa yang ada
Namun tak lagi disambut baik dan gembira
Karna yang tersisa hanyalah kesakitan dan penderitaan
Yang tersisa hanyalah songsong hari dengan kemiskinan
Hanyalah kelapa untuk makan dan minum
Tapi kamu pun harus bersusah payah.

by Corani (Cory Sarah Yohani Sibarani)

Komentar

Postingan Populer