Believe It or Not!

Bahaya melahirkan usia Muda
: menurut website alodokter.com, Kementrian Kesehatan dan referensi Kesehatan lainnya Fenomena hamil muda ternyata menjadi latar belakang kematian banyak remaja perempuan di dunia. Remaja perempuan yang melahirkan di bawah 15 tahun lima kali lebih berisiko meninggal dalam proses persalinan dibanding wanita usia 20 tahun ke atas. Selain itu, survei Pusat Unggulan Asuhan Terpadu Kesehatan Ibu dan Bayi yang dikutip Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan bahwa tiap tahun ada sekitar 2,1-2,4 juta perempuan melakukan aborsi. Sebanyak 30 persen di antaranya adalah remaja.
>Risiko kematian ibu dan bayi (Sekitar satu juta bayi yang lahir dari remaja perempuan juga meninggal sebelum usia mereka mencapai satu tahun. Bayi dari seorang ibu yang melahirkan di bawah usia 18 tahun 60 persen lebih berisiko meninggal sebelum satu tahun. Makin muda remaja perempuan mengalami kehamilan, maka makin berisiko bagi persalinan dan anak yang dikandungnya. Hal ini dikarenakan tubuhnya secara umum belum siap untuk menjalani proses persalinan, seperti panggul mereka yang masih belum lebar. Ketiadaan pelayanan kesehatan yang memadai terkadang tidak memungkinkan ibu dan/atau bayi selamat dalam proses persalinan seperti ini. Apalagi kehamilan di bawah umur memang lebih banyak terjadi pada kalangan masyarakat tingkat ekonomi bawah.)
>Risiko kelainan pada bayi (Masa kehamilan adalah periode krusial yang rawan komplikasi. Kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi dengan baik dapat menyebabkan kelainan atau cacat fisik sejak lahir.)
>Tekanan darah tinggi dan bayi lahir prematur (Perempuan yang hamil di masa remaja berisiko lebih tinggi mengidap tekanan darah tinggi dan preeklamsia dibandingkan mereka yang hamil di usia 20-30 tahun. Remaja yang mengandung di bawah usia 18 tahun memang lebih berisiko untuk melahirkan bayi prematur dan mengalami komplikasi. Bayi yang lahir terutama sebelum 32 minggu akan dihadapkan kepada risiko gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, serta otak.)
>Bayi lahir dengan berat badan di bawah normal (Bayi dengan berat badan kurang dari normal membutuhkan perawatan khusus, terutama untuk membantunya bernapas setelah dilahirkan)
>Penyakit menular seksual (Remaja yang berhubungan seksual di usia muda lebih berisiko mengidap penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, sifilis, dan herpes. Keengganan, ketidaktahuan, atau belum matangnya pola pikir membuat tidak sedikit remaja berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi seperti kondom. Penyakit-penyakit tersebut dapat ditularkan bahkan melalui seks oral atau anal. Klamidia dan infeksi gonore pada wanita umumnya menyebabkan penyakit inflamasi panggul (pelvic inflammatory disease/PID) yang dapat memicu gangguan pada tuba falopi. Pada kondisi ini, pembuahan sel telur dapat terjadi di luar rahim atau disebut kehamilan ektopik.)
>Depresi pasca melahirkan (Remaja perempuan lebih berisiko mengalami depresi pasca melahirkan karena merasa tidak siap, terutama jika tidak mendapat dukungan dari keluarga dan/atau pasangan. Depresi berisiko membuat remaja tidak mampu merawat bayinya dengan baik. Remaja perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan juga sering menghadapi tekanan dari banyak pihak dalam berbagai bentuk. Misalnya ketakutan akan penghakiman dari masyarakat, atau kekhawatiran akan kemampuan finansial mengurus bayi di masa depan.)

Mencegah Kehamilan Muda
>Keluarga Berencana (Keluarga berencana merupakan solusi jangka panjang yang meliputi pencegahan agar tidak ada remaja perempuan di bawah 18 tahun yang memiliki anak. Merencanakan dan memutuskan untuk menikah dan berhubungan seksual setelah 18 tahun adalah salah satu langkah termudah yang dapat ditempuh.)
>Membuat keputusan untuk diri sendiri (Banyak remaja perempuan belum menyadari bahwa tubuh dan hidupnya adalah milik dan tanggung jawabnya sendiri. Kemiskinan, ketiadaan pendamping orang tua, dan kekerasan seksual  menjadi faktor utama penyebab kehamilan di usia muda. Sekitar 23 persen remaja yang menikah di usia 15-24 tahun dipaksa pasangannya untuk berhubungan seksual di saat dia sendiri tidak banyak tahu tentang seks dan kontrasepsi. Hindari hubungan seksual sebelum menikah, apalagi seks di bawah paksaan. Hindari juga aborsi yang tergolong ilegal di Indonesia, apalagi jika dilakukan bukan oleh tenaga medis.)
>Menggunakan kontrasepsi (Sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa sekitar 46 persen remaja perempuan berusia 15-19 tahun yang sudah menikah tidak pernah menggunakan kontrasepsi. Padahal menggunakan kontrasepsi penting untuk mengurangi risiko penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan.)
>Memberikan pendidikan yang memadai (Pendidikan yang baik akan membuat remaja lebih cermat mengambil keputusan dan menjaga dirinya sendiri. Pendidikan tentang seksualitas juga perlu diberikan sejak dini, tidak hanya bagi anak perempuan, tapi juga laki-laki. Remaja perempuan yang melahirkan di usia muda juga sebaiknya dapat terus melanjutkan pendidikan.)
>Jangan mudah percaya (Terkait ini dengan mitos yang bertebaran diberbagai obrolan, bahkan tulisan diberbagai hal, kita harus benar-benar mengetahui dan mencarinya, baiknya kita berkonsultasi ke Dokter.)

Usia yang matang untuk menikah dan melahirkan
: Menurut aturan yang banyak di gunakan di berbagai Negara Maju dan Berkembang usia yang diakui dan matang untuk sbb 
>Pria             23 Tahun
>Perempuan  21 Tahun

Mengapa usia sebagai yang dijelaskan diatas untuk melahirkan, apa keuntungan kasat mata?
: - Kita bisa Mengejar cita-cita kita sedari kecil atau setidaknya beberapa tahun terakhir sebelum menikah muda
  - Mampu meraih pendidikan sebaik dan setinggi mungkin, untuk menghindari kebodohan, namun dilain hal untuk memajukan martabat sebagai mahkluk yang cerdas anugerah Maha kuasa untuk selalu mengasah Ilmu Pengetahuan
  - Memakai waktu muda dalam berorganisasi, berteman sebanyak-banyaknya dengan banyak jenis kelompok orang
  - Bisa menuangkan Hobi dan Cita-cita dengan nyata tanpa harus memikirkan dan membagi ke hal yang lebih rumit dan dalam. Maksud hal ini, jika kita sudah berkeluarga, memiliki anak di usia muda.
  - Tentunya mengurangi tingkat Kematian Ibu dan Anak secara Nasional ataupun Global, serta mengurangi tingkat Perceraian keluarga muda, biasanya diakibatkan karena usia yang tidak seharusnya bersiap sebagai suatu keluarga utuh.
  - Tidak menimbulkan penyakit yang lebih serius seperti Cancer Serviks (Kanker Mulut Rahim), yang biasa terjadi karena kualitas rahim belum siap mengandung janin, dan kesiapan mengeluarkan banyak darah dan sebagainya
  - Serta menjamin pertumbuhan penduduk tidak terlalu membludak, sehingga keseimbangan bisa kita pantau bersama-sama sebagai warga Masyarakat dan Dunia.

Berikut beberapa Nama-nama Perempuan yang Melahirkan di Usia dibawah 12 tahun di Dunia :

1. Lina Medina asal Peru lahir tahun 1933 dan melahirkan anak di usia (5 Tahun 7 Bulan - tahun 1939) Bernama Gerado tidak diketahui dihamili oleh siapa.


2. Liza Gryschenko asal Ukraina lahir tahun 1928 dan melahirkan di usia (6 Tahun - tahun 1934) Anak Meninggal dalam Persalinan diketahui oleh Kakek Kandungnya.


3. Hilda Trujillo asal Peru lahir tahun 1948 dan melahirkan usia (8 Tahun 7 Bulan - tahun 1957) Bernama Maria del Rosario diketahui sepupu berusia 22 tahun yang menghamilinya.


4. Edith asal Mexico lahir tahun 2001 dan melahirkan usia (10 Tahun 10  Bulan - tahun 2011) none name, Ayah tiri berusia 28 tahun yang menghamilinya.

5. Elena Chiritescu asal Spanyol lahir tahun 2000 dan melahrkan usia (10 Tahun 6 bulan - tahun 2010) Bernama Nicoletta dan dihamili oleh sepupunya berusia 13 tahun.


6. Samantha Goodman asal Zimbabwe lahir tahun 1993 dan melahirkan usia (10 Tahun 9 Bulan - tahun 2003) Bernama Courtney oleh teman sekolahnya berusia 12 tahun.

7. Hortensia Juan asal Mexico lahir tahun 1957 dan melahirkan usia (10 tahun - tahun 1967) none name, oleh tetangganya berusia 21 tahun.

8. Wanwisa janmuk asal Thailand lahir tahun 1992 dan melahirkan usia (9 tahun - tahun 2001) none name, oleh pacarnya berusia 27 tahun.


Mungkin memang Menikah di Usia muda bagi banyak orang terutama Perempuan diantara kita tidak terlalu mengganggu dan mungkin banyak dari kita bisa membuktikan saat nikah di usia muda, pernikahan bisa bertahan lama, Ibu dan Anak sehat serta lain halnya, namun bukan ini yang menjadi tolak ukur, tradisi seperti ini harus diperbaharui untuk Kesehatan mental, dan Psikis yang memang diperlukan dewasa ini. Sehingga mari kita lebih memperhatikan wujud baik dari tidak memutus Cita-cita, harapan  hidup serta banyak hal lain demi kelangsungan hidup yang lebih sejahtera.

#WomenRise #TidakNikahMuda

Komentar

Postingan Populer