PUISI 5

Meragu dalam Kelebihan

Manusia masuk seperti penyelundup
Merangkak, menengok sekeliling, memastikan sesuatu
Siapa saja tidak ingin melaporkan kekejian dendam tak bersalah
Siapa saja bisa bertutur tidak mempersalahkan apa-apa

Runtuh bagaikan Besi berdaging halus
Remuk bagaikan Peluru kosong tuk diinjak
Namun, apa daya sang Martir yang dicintai rakyat
Apa yang bisa dilakukan Martir dengan Pengkhianat
Mengapa sang Martir tidak bisa membungkam
Sebagian tlah menghilang sekejap bagikan kedipan

Riuh dimana-mana menyalahkan apa yang tak perlu disalahkan
Sekalipun memiliki banyak Kepunyaan, dia tahu ..  itu tak sepenuhnya
Dia bisa Dapatkan selamanya sebisanya

Hantam-menghantam, sikut-menyikut
Muntah-memuntahkan, tafsir-menafsir
Hanya sentimen yang keluar dari banyak moncong bergeliat
Berdendang seenaknya tak berisi apa-apa dalam otaknya
Seakan menunjukkan kekuasaan tidak berkepunyaan
Namun Ragu apa yang benar dan yang salah
Ragu dengan pandangan Minus yang Membenar-benarkan
Tapi tak Ingin memperbaiki kesalah-salahan yang Muna

Sang Martir Meragu dengan hati dan pertanyaan dalam benaknya
Dia membuka Jendela kecil, angin pun berdesakan masuk
Dia menutup Gerbang, bahkan celah antaranya bisa memasukan Beruang sekalipun
Lalu terpontang-panting dengan keraguan, banyak raksasa menatapnya dengan bahagia
Martir .. Teriakan kencang dari benaknya
Hatinya ikut mendorong "Lakukan keyakinan-Mu selama ini" 
Sang Martir ragu dalam kelebihan, rakyat pun beringas

Banyak dari Raksasa menawarkan perubahan, tapi dengan balas jasa
Balas jasa seperti apa .. seperti pengintaian berabad-abad
Pemaksaan tak terhabiskan, kesedihan tak terelakan
Kematian untuk melunasi, Pembayaran yang tak mencukupkan
Menghabiskan .. Membinasakan .. Menyiksa ..
Itu tak penting, seluas daerah ini memiliki segalanya kata Sang Martir

Dalam dirinya bertanya, tidak semua, ada yang pincang
Martir pun diam meminta jawaban dalam dirinya .. Apa?
Ketegasan dan Keberanian

Sang Martir jatuh dan tak kembali dalam hembusan nafas untuk beribu-ribu tahun 
Untuk waktu tak terhitungkan dalam banyak Tangisan Rakyat
Dalam Suasana kekejian Apapun, Dia takkan Kembali

Karna Ragu dalam Kelebihan kamu goyah Dalam Penindasan dan dalam Ketegasan

By Corani (Cory Sarah Yohani Sibarani)

Komentar

Postingan Populer