Kerusuhan MEI 1998

20 tahun Kerusuhan Mei 1998 Oleh Corani

Usia-Ku boleh jadi masih dua tahun, di saat peristiwa ini meletus menjadi jejak kelam wajah Indonesia saat itu. Ibu-Ku yang saat itu sudah berusia 35 tahunan mengingat betul, betapa banyaknya orang entah dari mana berhamburan dengan kepentingannya sendiri. Menjarah barang, membakar Mobil, sikut-meyikut antar warga dan aparat jadi tontonan lazim, sejak kembalinya Soeharto sebagai Presiden maret 1998. Entahlah, bagi-Ku Soeharto termasuk daftar diktator, dengan kepemimpinan 32 tahun, Indonesia bukan ditinggali oleh prestasi, melainkan mimpi buruk dengan kasus korupsi dan pelanggaran HAM.


Mahasiswa pun bangkit, aktivis kemanusiaan pun ikut bergerak mempertanyakan ketidakpuasan yang mereka dan rakyat alami. Sebab, kenaikan harga pokok dan sikap para aparat negara tidak membantu mereka keluar dari krisis ASIA yang ikut melanda kriris moneter dalam negeri. Terpilihnya Soeharto ketujuh kali secara aklamasi oleh Parlemen membuat lebih dari 10 ribu Massa bersinergi menduduki gedung yang kerap kali menuai kontroversi.


Saat itu banyak media dan individu mengeluhkan Amien Rais sebagai "Bapak Reformasi" tapi, jika dilihat saat ini, beliau tidak lebih dari Pria tua dengan semangat megap-megap tak ada tujuannya. Tak ada yang tahu apa yang sebetulnya ia inginkan, "Victory" atau "Riot", tidak ada yang dibuatnya nyaman. Para petinggi militer tuduh-menuduh otak dibalik kerusuhan ini, namun hingga kini, lembar jawaban yang keluarga korban ataupun rakyat minta belum saja diisi setelah 2 dekade. Mestikah sampai pikun menyerang kami semua?


Tapi dari semua bagian cerita 1998, yang Ku pertanyakan sampai saat ini dan seperti tidak ada benang merahnya, apa maksud dari pemerkosaan dan kekerasan yang di alami masyarakat berketurunan Tionghoa. Mengapa mereka terhitung sebagai korban yang memiliki dampak besar dari gugatan awal yaitu hanya " Mundurnya seorang Jenderal bintang Lima"? Mengapa jejak dokumen mereka memperlihatkan kejamnya manusia terhadap hidup mereka. Belum sampai disitu, penjarahan toko umumnya dimiliki oleh orang Tionghoa, dan dari mereka mati dengan sangat mengenaskan.

Etnis Tionghoa yang kalang-kabut akibat berbagai peristiwa Keji 1998

Tidakkah kita begitu kejam? Masih adakah ruang untuk kita membela Hak kita sendiri? Inilah kabut Hitam yang memenuhi sejarah Indonesia terburuk! Dan saya harap, tidak ada lagi di masa mendatang terjadi gesekan semacam ini.

Komentar

Postingan Populer