Catatan Penulis

Hari ini di Indonesia
(Memperingati 20 Tahun Peristiwa MEI 1998)


Keadaan semakin tergenang, dan tidak lagi tenang. Semua membentuk gelombangnya sendiri, sulit dari tiap individu menenangkannya, apalagi jika tidak tanpa bantuan.

Indonesia hari ini, sedang dalam masa dicobai oleh bangsa sendiri. Cobaan itu nyata sedang masuk rumah negeri ribuan pulau. Cek-cok, diskriminasi, tawanan, tekanan, gesekan, ketiada berdayaan, ahh, semuanya sedang terjadi, tapi walau kalian yang membacanya pasti membayangkan rumitnya negeri ini, hal yang bagi Saya lebih menyeramkan ialah. Kerumitan ini dalam hening yang diam, tidak ada gema, tapi bisikan dimana-mana, sehingga penyebaran 'benci' cepat mencuat.

Fakta
Dan itu harus kita sadari dengan jujur
Bahwa, ada benturan yang keras, dari persatuan, dan harapan akan kemajemukan ini sedang dalam wahana menyeramkan yang mengombang-ambingkan keyakinan luhur.

Indonesia memang tidak luas, kenyataanya Hutan kita luas melindungi Paru-paru Bumi. Kita patut Bangga


Banyak dari negeri subur ini berkata, leluhur masih ada andilkah hingga saat ini. Cukup yang sadar yang pasti menjawab "Ya". Kita semua berangkat dari negeri lain yang lebih tua, kita semua berangkat dari peradaban yang lebih paham akan luasnya samudera yang kita miliki saat ini. Kita semua berangkat dari negeri, yang lebih dahulu membiasakan perilaku dan sikap agar menjadi suatu kebudayaan. Kita tidak lahir begitu saja sebagai INDONESIA. Hai INDONESIA HARI INI.

Jangan buat ide-mu sendiri wahai sang Idealis. Jangan buat diri-mu sempurna sendiri, wahai sang Perfectionist. Jangan buat sendiri pertempuran-Mu tanpa tameng kuat, sebab kau akan kalah.

“… Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan…” - Soekarno

Apakah Indentitas Agama menjadi satu-satunya saat ini?
Tidakkah moral yang membedakan kita dengan para penyamun!?
Sanggupkah kita mengkhianati Batin dan Keyakinan yang sampai saat ini kita perjuangkan?
Kita sama-sama sudah tidak mengerti.

Tempo lalu, Ibu-Ku sakit, di Rumah Sakit Umum, saat pendaftaran pasien baru, diberikan salah satu petugas RSU untuk mengisi data. Di sana tertulis "Suku apa". Bagi akal sehat-ku itu janggal, dan seluruh anggota dirumah pun demikian. Tidak pernah sejauh ini (sekiranya 65 tahun terakhir selama orang tertua hidup di rumah-Ku, yaitu Ayah-Ku) melihat tiap formulir dalam tiap moment tertera "Suku" pasti umumnya akan didapat, nama, tanggal lahir, alamat, pekerjaan, gender, agama, dan golongan darah. Itulah yang sekiranya, se-standar yang ku tahu. Tapi, aku terdiam, dan menyadari, kalau begini terus, akan ada bahaya lebih dalam di depan. Aku tidak mau, demi sumpah apapun, aku tidak mau INDONESIA Ku ini terpecah-belah.

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” - Soekarno

Mengenai kekuasaan, membaca pidato salah satu Diplomat terbaik negeri ini, saya menjadi yakin, apapun yang terjadi, siapapun yang ingin mencoba berkuasa tanpa mementingkan Rakyat, dia akan tumbang tanpa sisa. Sebab Tuhan YME lah, tetap menjadi penentu.

Indah Bukan? ðŸ˜‰ðŸ’—

Janganlah kita berseteru karena hal sepele.
Ya hal sepele. Yaitu, seseorang yang kita eluh-eluhkan sebagai pemimpin. Bagi Saya itu semua sepele, sebab, lebih baik kita memilih bertengkar untuk menentukan hukuman yang tepat bagi siapa saja yang mencoba mencerai-berai. Bagi sang Koruptor. Bagi sang Pengedar Narkoba, pembunuh diam-diam tidak pernah mati, justru mematikan. Bagi sang pencuci otak, yang tidak tahu juntrungan hidupnya, tapi ingin merusak kehidupan orang lain. Bagi komplotan kaya raya, yang egois dan berpura-pura berperi-kemanusiaan, tapi merusak Ekosistem bumi (membakar lahan-yang akhirnya merusak air, tanah, fauna-flora kehilangan rumah aslinya). Bagi pemuda/pemudi yang mencoba bercokol pada teknologi, tapi mencoba merusak sistem dengan memperkaya diri di luar negeri. Bagi Para generasi baru, yang menolak cerdas, dan bermoral, dengan menjunjung budaya orang lain dan memborongnya ke negeri sendiri untuk dipelihara sebaik mungkin. Bagi siapa saja yang secara langsung mengkhianati dan menyakiti negeri yang memberi mereka hidup dan tanah untuk dipijak. Kita perlu melawan hal-hal ini.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Soekarno

Aku baru "Setuju" dengan ucapan fenomenal ini. Dan sekira-Ku, hal ini akan disetujui oleh Kalian, jika kalian (sekali lagi) menyadari dengan jujur.

Maka dari itu, kegaduhan saat ini di Indonesia berbeda dengan kegaduhan 20 tahun lalu yang nyata, ricuh dan menakutkan. Kegaduhan dan Rumitnya Indonesia saat ini, momok untuk kita yang mau tetap berdiri di Indonesia bersuara keras dan tegak akan bisikan gaduh yang sudah menyebar-merangkap-dan menyelinap di tengah kehidupan kita.

Jika kita mau, marilah saat ini juga. Tebar pemikiran positif, ucapan menenangkan, dan perbuatan untuk menjadi Tauladan. Buat Negeri ini dan Dunia ini lebih damai lagi.

Inilah Suara-Ku, mana Suara-Mu?

Komentar

Postingan Populer