PUISI 1

(Kekasih yang t'lah pergi) -Satu-

Hujan sendu di tengah hari, menari di aspal kering, tertempa panas menggigit.
Di ujung jalan, mesti menyebrang untuk melihat jelas.
Tandu dan teriakan ketakutan mengelilingi, sanubari tak berani.
Katakan yang pantas untuk didengar, namun menolak kepahitan.

Dinda sudah tidak mungkin kembali, raga kaku pucat tak tersenyum kembali.
Pertanyaan muncul dari balik kaca, menanti jawaban tapi tidak pasti.
Derap langkah kaku pria parubaya diiringi tangis, meminta kembali.
Muncul sumpah serapah dari diri tak bersalah.

Meributkan persoalan masa lalu untuk menatap masa depan.
Tak hentinya diam menatap apa yang terjadi, lalu hamba tidak dapat mengingkar.
Tuhan, Tuhan, di negeri Cinta-Mu t'lah ku bunuh satu cinta, lalu muncul cinta, kubunuh lagi, kubunuh lagi, apa yang seharusnya terjadi. 

Dosakah aku, lalu haruskah kubunuh cinta dalam diri-Ku yang kejam ini, aku, aku tak menginginkannya.
Malam itu, hujan itu, kepergian itu, keramaian itu, kehilangan itu, bukan hanya aku yang seharusnya menanggungnya, Dinda yang ku kasihi pun terlibat.
Tetapi dia dahulu pergi untuk mengakhiri sakitnya, meninggalkan cintanya.

Aku harus sendiri melihat kejadian itu untuk menceritakannya dan menyimpannya. Dinda yang Ku kasihi, ikhlas kah jika aku ikut dengan-Mu walau tidak seharusnya, saat ini aku hanya termenung.


by Corani (Cory Sarah Yohani Sibarani)

Komentar

Postingan Populer