Hari Film Nasional (HFN)

Indonesia sejak awal 1900-an telah ikut memajukan industri kreatif melalui Film. Tokoh-tokoh film era paling pertama sebelum kemerdekaan dipegang oleh sejumlah kelompok dari kalangan Tionghoa, Belanda, ataupun Jepang. Namun, saat ini masyarakat Indonesia secara mayoritas telah memegang sendiri kendali untuk Industri yang cukup memberi dampak terhadap dunia luar terhadap Budaya, Peradaban, dan Ciri Khas Kehidupan masyarakatnya. Tiap 30 Maret menjadi peringatan 'Hari film Nasional' bagi Indonesia, hal ini diyakini pada 30 Maret 1950 merupakan awal hari dimana film 'Darah dan Doa' menjadi karya murni anak Bangsa, yang dibuat oleh Usmar Ismail yang saat ini dikenal sebagai 'Bapak Perfilm-an Indonesia'  melalui kerendahan hati dan dedikasinya, ia menggunakan bakat dan kecerdasannya yang dibekali Nasionalisme, Darah dan Doa menjadi film pertama karya Negeri sendiri yang mengangkat kisah Nasionalisme dengan beberapa tambahan hal menarik antara lain cinta, dan kesedihan. Lalu, siapa sajakah 10 Director terfavorit yang pernah dimiliki Negeri ini, berikut 10 Sutradara terbaik dengan beberapa judul film jagoan mereka. Check it out >>>

1. Usmar Ismail (Sumatera Barat, 20 Maret 1921 - 02 Januari 1971)
Bapak Sutradara Indonesia yang namanya sudah semakin dikenal luas ini, merupakan Sutrada bertangan dingin, dan memiliki Ide yang kental akan Nasionalisme dan kekukuhan akan sebuah cerita. Dari garapan judul filmnya lah banyak melahirkan pemeran ternama dan diakui di dunia, tidak hanya kejayaan yang ia dapat sejak era 1940-an hingga akhir hayat, ia sendiri pernah mengalami kejatuhan salah satunya 'Perfini' bangkrut, minat penonton akan karyanya berkurang, dan ia pun menutup akhir hidupnya kerena stroke yang ia derita. Berikut beberapa judul Filmnya :
-Enam Djam di Djogja (1951)            -Anak-anak Revolusi (1964)
-Tamu Agung (1955)                           -Ja, Mualim (1968)
-Pedjuang (1960)                                -Ananda (1970)


Paling Kanan, saat menggarap sebuah film

2. Nawi Ismail (Jakarta, 18 April 1918 - 08 Februari 1990)
Sutradara yang gemar membuat cerita laga dan Komedi ini juga sukses membuat banyak pemeran film terkenal dan karyanya digemari masyarakat Indonesia. Banyak dari karyanya sering dikritik oleh kritikus film karena hanya menampilkan film bertemakan 'sempit' yang dianggap untuk mendapatkan penonton dan keuntungan saja tanpa melihat kualitas, tapi bagi Nawi Ismail, iya tidak menampakan hal tersebut, justru Komedi dan Laga menjadi ketekunannya berdedikasi dalam berfilm. Berikut beberapa judul film karyanya :
-Bunga Bangsa (1955)                        -Bajingan Tengik (1974)
-Marina (1961)                                   -Ge..Er (1980)
-Si Pitung (1970)                                -Demam Tari (1985)

 

3. Teguh Karya (Jawa Barat, 22 September 1934 - 11 Desember 2001)
Tidak perlu diragukan lagi, Teguh Karya merupakan salah satu aset bangsa yang pernah dimiliki berkat kejeniusan yang di pakai dalam bidang perfilm-an. Tidak heran telah 6 kali memenangkan piala FFI, dan menjadi sutradara yang nyentrik dalam tiap judul yang di garap, dari besutan filmnya, tidak sedikit juga para pemain ikut sukses sebagai pemain film dan menjadi terkenal, salah satunya duo Slamet Rahardjo yang berguru padanya dan aktris kawakan Christine Hakim, setelah kematiannya, sampai saat ini belum ada sutradara yang memenangi FFI lebih dari 5 kali. Berikut judul film yang ia buat :
-Cinta Pertama (1974)                           -Secangkir Kopi Pahit (1984)
-Badai Pasti Berlalu (1977)                  -Ibunda (1986)
-Usia 18 (1980)                                     -Pacar Ketinggalan Keret (1988)


Ketika mendapati piala FFI tahun 1980-an

4. Arifin C. Noer (Jawa Barat, 10 maret 1941 - 28 Mei 1995)
Sebagai sutradara Teater dan Layar Lebar, Arifin merupakan salah satu sutradara Idealis yang tidak terus menerus membuat film, tapi bekerja dan membuat film dengan hati-hati, sehingga tersampaikan pada penonton. Suami dari aktris Jajang C.Noer ini, wafat di usia terbilang muda akibat kanker hati yang ia derita. Sejak muda bakatnya ia asah dari mulai menulis puisi, membuat naskah lakon teater, dan cerpen, sehingga bukan hanya sebagai Director, ia juga kerap merangkap sebagai seorang penulis. Berikut beberapa judul film karyanya :
-Rio Anakku (1973)                                -Pengkhianatan G30S/PKI (1984)
-Suci sang Primadona (1977)                -Biarkan Bulan itu (1986)
-Serangan Fajar (1981)                         -Taksi (1990)


Kedua dari kiri (berkaca mata) saat menggarap film Pengkianatan G30S/PKI

5. Sjumandjaja (Jakarta, 05 Agustus 1934 - 19 Juli 1985)
Ayah dari drummer Wong Aksan dan Penulis Djaenar Maesa Ayu ini merupakan Sutradara yang cerdas bukan hanya dalam menggarap film, tetapi gemar juga dalam menulis. Salah satu karyanya yang juga terkenal adaptasi dari gabungan puisi Chairil Anwar yang ia buat ialah 'Aku'. Sjumandjaja meninggal di usia muda yaitu 50 tahun, dengan 2 kali mendapatkan piala FFI, ia termasuk salah satu sutradara yang memiliki keahlian yang cukup di segani di Indonesia, berikut film yang ia garap :
-Maribel (1969)                                     -R. A Kartini (1982)
-Si Doel Anak Betawi (1972)                -Kerikil-kerikil Tajam (1984)
-Kabut Sutra Ungu (1979)                    -Opera Jakarta (1985)

 

6. Lilik Sudjio (Sulawesi Selatan, 14 Mei 1930 -09 Desember 2014)
Aktor yang memulainya sejak 1950-an, yang juga sebagai sutradara ini merupakan tokoh senior yang telah sukses membuat film seperti Laga, Komedi, dan Mistik. Pada awal malam penghargaan FFI tahun 1955, terjadi kontoversi peraih film terbaik yaitu film karyanya dan karya Usmar Ismail, namun hal ini tetap saja sah, lewat 'Tarmina' lah Lilik pertama kalinya memenangi FFI 1955. Dengan bekal sinematografi yang ia emban di AS, ia sukses membuat film yang laris dan baik. Berikut film yang pernah ia garap :
-Kembang Katjang (1950)                               -Wadam (1978)
-Penyesalan (1964)                                          -Cinta Kembar (1984)
-Ratu Ular (1972)                                            -Jaka Swara (1990)

 

7. Rudi Soedjarwo (Jawa Barat 09 November 1971)
Muda dan berani, serta berbekal keyakinan, itulah yang dimiliki sutradara Rudi Soedjarwo pada awal 2000-an. Putra dari Kapolri Anton Soedjarwo ini dinilai sebagai sutrada yang menandai bangkitnya film Indonesia yang berkualitas dan laris sebagai tuan rumah. Rudi Sudjarwo membuat genre filmnya beragam dan tidak mengikuti tren yang ada, ia kerap kali membuat film bertemakan drama, dengan salah satu kerabatnya Monty Tiwa ia mendirikan sekolah film. Berikut beberapa judul film yang pernah ia buat :
-Tragedi (2001)                                                 -Mengejar Mas-mas (2007)
-Rumah Ketujuh (2003)                                    -Hantu Rumah Ampera (2009)
-Tentang Dia (2005)                                         -Batas (2011)

Bersama Vj dan Aktor Boy William


8. Sofia W.D (Jawa Barat, 12 Oktober 1924 - 23 Juli 1986)
Menjadi salah satu Sutradara Perempuan era pertama di Indonesia merupakan salah satu titik awal kemajuan dtan modernisasi yang Indonesia ciptakan. Mengapa tidak, istri dari aktor W.D Mochtar ini juga pernah mendirikan Perusahaan Film bernama 'Libra Film'. Berkat pengalamannya yang kaya, ia juga menjadi Produser, penyunting gambar, pembuat skenario, dan pemain dalam beberapa judul film. Dengan bekal itulah ia dieluhkan oleh masyarakat Indonesia berkat bakat dan paras yang cantik. Berikut beberapa judul film yang pernah ia buat : 
-Badai selatan (1960)                                        -Jangan Menangis Mama (1977)
-Singa Betina dari Marunda (1961)                  -Halimun (1982)
-Tanah Harapan (1976)                                     -Bermain Drama

Masa Senja
Masa Muda

9. Hanung Bramantyo (Jawa Tengah, 01 Oktober 1975)
Ketika ditanya siapa sutradara yang akan menjadi besar, mungkin itu bisa saja diberikan pada Hanung Bramantyo. Dalam beberapa film karyanya telah banyak menyerap penonton yang sangat banyak dan sering mendapat kritik karena dinilai kontroversional. Namun, melalui karyanyalah, banyak pemain yang menjadi terkenal dan semakin dikenal, ia sendiri terhitung muda, dengan puluhan karya yang sudah ia telurkan, ia juga pernah memenangkan piala FFI sebanyak 2 kali. Berikut beberapa judul film karyanya :
-Brownies (2004)                                                 -Tanda Tanya (2011)
-Jomblo (2006)                                                    -Hijab (2015)
-Doa yang Mengancam (2008)                           -Kartini (2016)



10. Upi Avianto (Jakarta, 21 Juli 1972)
Tidak banyak memang sutradara perempuan di Indonesia sampai saat ini, namun tidak sedikit dari sutradara perempuan tersebut membuat gebrakan dalam ide cerita, serta keuletan mereka sehingga karyanya bisa dinikmati hingga luar negeri. Salah satunya Upi Avianto yang pernah menjadi penulis, produser, serta sutradara. Sejak kemunculannya pada awal 2000-an, Upi bukan saja berani, tapi cepat mengambil kesempatan sebagai salah satu penerus sutradara perempuan, filmnya pun ikut membangkitkan kegemaran penonton ke bioskop. Berikut film yang ia buat :
-30 Hari mencari Cinta (2004)                               -Belenggu (2013)
-Realita, Cinta, dan Rock n Roll (2006)                 -My Stupid Boss (2016)
-Radit dan Jani (2008)                                             -My Generation (2017)


Bersama Aktor Reza Rahardian

Selamat Menonton FILM INDONESIA
Bangga FILM INDONESIA
Selamat Menikmati HARI FILM NASIONAL
Jangan Lupa 'Lestarikan dan Pergunakan' karya anak bangsa dengan tanggungg jawab dan kebahagiaan, maju terus FILM INDONESIA 🎥 📹 🎦 😘👍

Komentar

Postingan Populer