Puisi 10
Mati Lemas
Siang yang tandus .. serasa di hamparan Gurun
Tiba saatnya tetesan satu per satu
Basahi semua sudut yang berlindung
Memantau yang kering untuk di basahkan
Menanti yang layu untuk bermekaran
Hai kau yang didepan sudut mata-Ku
Mengapa diam?
Sekali lagi Ku sapa agar tiada diam
Malu namun Mau
Mematung namun merekam
Membisu namun menggumam
Mati namun Benyawa
Siaran berita dari mulut-mu Ku ketahui
Sial aku terlambat menyadari
Terakhir kali kau menyentuh cinta terdalam ini
Hambar yang kau dapat dan pergi selama dalam dilema
Aku tak tahu bahwa ini sungguh kekelaman dalam mati
Namun, sangat nyata dalam waktu seseorang yang hidup
Mengkhianati memang pahit
Ditinggalkan tanpa surat untuk tahu kabar menyiksa
Waktu tidak butuh senyawa apa-apa
untuk menghidupkan jarak
Aku yang membutuhkan-Mu .. bagaimana dengan Kau?
Sayang
Berulang kali aku mengajak-Mu berdiskusi
Suara-Mu kau kecilkan sampai aku menyentuh dinding lemas
Apakah kau sudah tiada?
Sayang
Benarkah yang semua ini?
Benarkah semua yang kita rasakan dan kita ketahui Nyata?
Benarkah dengan apa yang terjadi?
Benarkah dengan ini-itu yang mereka perguncingkan?
Benarkah Sayang?
Aku Tak mau lagi Mati Lemas selama Hidup
Aku hanya cukup Hidup untuk tahu Kematian
Corani (Cory sarah yohani sibarani)


Komentar
Posting Komentar